Wednesday, December 12, 2018

Contoh Kegagalan Teknologi Informasi di Indonesia : Kegagalan Flashsale Tokopedia






I. Perkembangan Tokopedia
Tokopedia adalah salah satu jaringan toko terbesar di Indonesia yang dimiliki dan dijalankan oleh PT. Tokopedia. Tokopedia menyediakan sarana penjualan dari customer-ke-customer dimana siapa pun bisa membuka toko online yang melayani calon pembeli dari seluruh Indonesia. User, yang kerap disebut tokopediawan, bisa menjual barang baru maupun bekas melalui Tokopedia (walaupun mayoritas produk yang dijual di Tokopedia adalah barang baru yang dijual pada harga yang sudah ditentukan).  PT Tokopedia didirikan oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison pada tanggal 6 Februari 2009, sedangkan Tokopedia.com dibuka untuk public beta pada tanggal 17 Agustus 2009.

Dan Sistem pembayaran transaksi di Tokopedia itu didasarkan pada sistem escrow yang dijalankan dan dijaga oleh PT Tokopedia. Dalam hal ini Tokopedia akan menjadi pihak ketiga yang menengahi transaksi antar penjual dan pembeli. Ketika calon pembeli ingin membeli sebuah barang dari penjual di Tokopedia, maka pembeli harus melakukan transfer pembayaran ke Tokopedia terlebih dahulu. Jika transfer berhasil, kemudian Tokopedia akan memberi tahu penjual bahwa pembayaran sudah diterima oleh Tokopedia dan penjual bisa melakukan pengiriman barang yang sudah dipesan pembeli. Ketika barang tiba di pembeli, pembeli melakukan konfirmasi penerimaan barang kepada Tokopedia, dan Tokopedia akan mentransfer uang pembelian kepada penjual.


II. Kasus Flash Sale pada E-Commerce Tokopedia
Fenomena flash sale belakangan ini mengundang tingginya partisipasi publik lantaran harga beragam produk lebih murah yang ditawarkan beberapa pelaku e-commerce di Indonesia. Di sisi lain, banyak konsumen yang kecewa karena tidak berhasil mendapatkan produk flash sale. Curhatan di media sosial pun menjadi perbincangan hangat.


Flash sale yang dilakukan e-commerce layaknya sebuah program clearance sale yang dilakukan oleh toko-toko offline. Analogi sebuah toko offline yang menyelenggarakan clearance sale dengan jumlah produk 30 buah. Ketika toko dibuka, ternyata ada 150 orang yang hadir bersamaan memperebutkan 30 produk yang dijual. Pada akhirnya hanya akan ada 30 orang yang mendapatkan produk. Untuk 120 orang yang tidak beruntung mendapatkan produknya, bukan berarti menjadi kesalahan dari toko tersebut.

Berita terkait flash sale yang sedang ramai dibicarakan datang dari Tokopedia. Perusahaan e-commerce ini mengakhiri hubungan kerja dengan pegawai yang melakukan pelanggaran transaksi terhadap 49 produk di flash sale. Pelanggaran yang dilakukan memang kecil jika dibandingkan dengan puluhan juta produk yang terjual setiap bulannya. Namun bagi Tokopedia, ini bukan persoalan seberapa kecil pelanggarannya, melainkan kegagalan integritas dalam menjaga kepercayaan yang diberikan kepada Tokopedia.

Seperti apa kegagalanya? Berikut adalah contoh tampilan saat flashsale tokopedia gagal :

Tampilan dari tangkapan layar saat konsumen meng-klik suatu produk yang ingin mereka beli

Pemberitahuan seperti ini sering dijumpai saat konsumen sedang berbelanja


Konsumen Tokopedia protes, mereka mempertanyakan nasib uangnya setelah gagal melakukan transaksi di situs e-commerce itu saat program flash sale. Tokopedia mengaku telah melakukan pembayaran kembali (refund) atas semua transaksi gagal yang terjadi saat penyelenggaraan flash sale.  Tokopedia menyebut, pengembalian dana telah dilakukan otomatis ketika barang yang dibeli dibatalkan oleh Tokopedia.

CEO Tokopedia William Tanuwijaya angkat bicara soal kasus Flash Sale yang melanda Tokopedia. Menurut William, ada anggota tim Tokopedia yang melakukan pelanggaran pada 49 produk yang dijual pada kampanye Flash Sale mereka. Pelanggaran ini ditemukan ketika Tokopedia melakukan audit internal yang disebutnya rutin mereka lakukan.

Perusahaan e-commerce Tokopedia dikabarkan memberhentikan beberapa karyawannya. Mereka diduga terlibat kecurangan (fraud) dalam program flash sale yang digelar Tokopedia. Aksi curang oknum karyawan Tokopedia itu membuat pengguna tak bisa membeli stok barang murah secara adil selama flash sale. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga integritas Tokopedia dan kepercayaan dari konsumen kepada perusahaan.


III. Curhatan dari Para Konsumen

Salah satunya Ibrahim Tarigan. Saat melihat persediaan bluetooth speaker masih ada, tak sampai satu menit, dia cekatan memasukkan barang itu ke keranjang belajanya. “Begitu sampai [tahapan] checkout, tahu-tahu barang sudah habis,” keluh Ibrahim kepada reporter Tirto, Senin (27/8/2018).

Setelah gagal mendapatkan bluetooth speaker, Ibrahim sempat mencoba untuk membeli barang lain, yakni mie samyang. Rupanya untuk barang seperti mie samyang sekalipun, Ibrahim juga gagal mendapatkannya.“Begitu checkout ternyata sudah habis juga. Setelah kejadian itu, saya mantengin di Twitter saja dan ternyata nggak cuma saya yang mengalami hal tersebut,” ujarnya.


Contoh cuitan konsumen lainnya yaitu :
Salah satu curhatan netizen yang kecewa nih!



Salah satu bentuk tanggung jawab pihak Tokopedia ke para konsumen yang kecewa









Contoh Kegagalan Teknologi Informasi di Indonesia : Kegagalan Flashsale Tokopedia

I. Perkembangan T okopedia Tokopedia adalah salah satu jaringan toko terbesar di Indonesia yang dimiliki dan dijalankan ole...